This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tuesday, March 15, 2016

Airsickness Bag



Copas dari grup tetangga : Kejadian di Tangerang beli makanan pakai kantong muntah. Utk teman2 yg naik pesawat jng gunakan kantong muntah utk bungkus makanan. Kalo Karena kantong ini kena basah mengeluarkan antiseptik.Teman saya yg dokter pun tdk tau dia suka masukan makanan ke kantong itu untung teman saya yg kerja di Garuda menjelaskan kantong itu memang terlihat bersih tapi coba baca dng jeli dikantongnya tertulis mengandung antiseptik.

Lagu-lagu Berbahasa Inggris


Ternyata kentut itu mengilhami terciptanya lagu2 syahdu.  Berikut dialog Udin dgn gurunya. 

Udin : "Pak, apa sih bahasa inggrisnya kentut?"
Guru : "Wind of change."

Udin : "Kentut yang tidak bunyi?"
Guru : "Sound of silence."

Udin : "Kentut yang ada ampasnya?"
Guru : "Dust in the wind."

Udin : "Kentut yang gak disengaja?"
Guru : "Careless whisper."

Udin : "Kentut yang terhimpit?"
Guru : "Please release me."

Udin : "Kentut yang bau banget?"
Guru : "Killing me softly..."

Udin : "Kalau kentut beracun?"
Guru : "Don't speak..."

Udin : "Kentut malam hari?"
Guru : "Wonderful tonight."

Udin : "Orang yang sering kentut?"
Guru : "Someone like you."

Kisah Nyata




Ahong sedang dalam perjalanan ke Jakarta dengan bis malam.

Seorg kakek tua naik dan menawarkan buku2 kepada penumpang.

“Bukunya nak? Ada macam2 nih. Buku silat, cinta2an, agama, dll”, ujar si kakek.

Ahong yg sedang tidak bisa tidur pun tertarik. “Ada buku horor ga kek?”

“Oh suka cerita horor ya? Kebetulan sisa satu, Pas lagi ceritanya. Tentang  bis yg ditinggali banyak arwah penasaran.

Judulnya ‘PENUNGGU BIS BERDARAH'. Serem banget pokoknya.”

“Boleh juga tuh berapa harganya kek?”

“Rp95.000, nak”

“Wow, mahal banget, kek”.

“Ya namanya juga buku Best Seller. Semua yg baca buku ini kabarnya syok loh waktu baca endingnya”, si kakek promosi ala salesman.

Ahong pun mengalah.

Entah kenapa, pada saat ia serahkan uang tersebut ke kakek, tiba2 petir menggelegar.

Angin mulai bertiup kencang.

Si kakek turun dari bis, namun tiba2 berhenti dan menolehkan wajahnya pelan2 ke Ahong.

“Nak”, ujarnya lirih, “apa pun yg terjadi, harap jangan buka halaman terakhir.

Ingat, apapun yg terjadi.

Kalau tidak nanti kamu akan menyesal dan saya tidak mau bertanggung jawab.”

Jantung Ahong berdegup kencang. Saking takutnya, ia sampai tidak mampu menganggukkan kepala hingga si kakek turun dari bis dan menghilang ditelan kegelapan.

Pada saat tengah malam, Ahong selesai membaca seluruh buku tersebut. Kecuali halaman terakhir.

Dan memang benar seperti yang dikatakan si kakek, buku itu benar2 menegangkan dan menyeramkan.

Bis melaju kencang, hujan turun deras. Kilat menyambar bergantian, terdengar suara guruh menggelegar. Ahong melihat sekeliling dan ternyata smua penumpang sudah terlelap. Bulu kuduknya merinding.

“Baca halaman terakhirnya ga ya?”, pikir Ahong bimbang. Antara penasaran dan rasa takut berbaur jadi satu. Di luar malam tampak makin gelap. “Ah sudahlah, sekalian aja. Nanggung!”

Dengan tangan gemetar ia pun membuka halaman terakhir buku tersebut secara perlahan.

Dan akhirnya tampak lembaran kosong dengan sepotong tulisan di bagian pojok kanan atas. Sambil menelan ludah, Ahong membaca huruf demi huruf:

PENUNGGU BIS BERDARAH.
Terbitan CV. Pustaka Karya
Harga Pas: Rp. 10.500 ...

Monday, March 14, 2016

Renungan dari kawan Betawi : Praktek Beragama Seperti di Pesawat Terbang: Apa Agama Pilot?

Mengikuti rekomendasi seorang teman istri saya, belakangan ini saya menyukai Sriwijaya Air untuk perjalanan rutin Bali - Jakarta. Ada yang menarik: setiap menjelang lepas landas, para penumpang diajak berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Kalau penerbangan mulus-mulus saja, ajakan ini barangkali bermakna biasa-biasa saja. Kalau cuaca buruk, doa menjadi tumpuan harapan untuk menguatkan keyakinan akan keunggulan teknologi penerbangan dan kompetensi pilot, kopilot, serta pemandu penerbangan yang ada di bandara.

Dalam suatu penerbangan malam ke Cengkareng dari Denpasar bulan Januari lalu, pesawat mendarat di tengah hujan lebat setelah sebelumnya putar-putar di langit berawan tebal karena bandara tidak aman untuk didarati. Situasi sangat mencekam. Belum pernah saya merasakan keringat dingin getir seperti itu. Ternyata saya juga takut mati, walau selalu pasrah. Di sekeliling saya sebagian besar penumpang memejamkan mata. Dari gerak tangan, banyak yang tampak berdoa. Nama Allah juga disebut-sebut. 



Ternyata manusia-manusia yang berbeda agama bisa berdoa bersama. Pesawat terbang adalah salah satu dari begitu banyak ruang publik yang tidak mempersoalkan agama. Di 'boarding pass' tidak ada kolom agama. Walau harus tunjukkan kartu identitas, seringkali KTP, kolom agama tidak dibahas. Dan, saya belum pernah mendengar ada calon penumpang yang bertanya, "Pilotnya agama apa?" Padahal, kalau keselamatan penerbangan adalah wujud terkabulnya permohonan kepada Tuhan, karunia keselamatan itu terjadi lewat pilot yang kita tidak ketahui namanya, pilot yang kita doakan tanpa kita ketahui agamanya, pilot yang tidak kita adili kualitas moralnya menggunakan ajaran moral agama kita. Belum pernah juga ada yang menolak naik pesawat terbang gara-gara pesawat terbang dibuat oleh orang-orang yang tidak seagama. Saat duduk di kursi pesawat, kita yakin semua pemangku kepentingan melakukan kewajibannya dengan kehendak baik untuk menjamin keselamatan penerbangan.

Saya mungkin ada di golongan para naif, mendambakan kehidupan beragama seperti di dalam pesawat terbang. Kita pilih pesawat karena yakin akan profesionalisme dunia penerbangan, komitmen maskapai pada keselamatan, kecakapan pilot, kopilot serta awak-awak pesawat, bukan karena agama. Mungkin saya naif jika berharap agama dikembalikan ke tempatnya yang suci, sebagai suluh perilaku, bukan sekedar identitas pengkotak-kotakan masyarakat yang rentan dijadikan tunggangan untuk merebut kuasa dan sumber-sumber ekonomi.

Salam dari Mbetawi,
13 Maret 2016

Kebakaran di Ruang Tabung Chamber Pulau Miangas Gedung Ruang Udara Bertekanan Tinggi (RUBT) RSAL Mintohardjo, Jakarta Pusat.


Sejenis chamber yang terbakar.

Pada  14 Maret 2016 pkl 13.00 Wib telah terjadi kebakaran di ruang RUBT RSAL Mintoharjo Jakarta yg diduga akibat konseleting listrik shg menimbulkan asap putih tebal dan pasien yg ada di dalam tabung oksigen ikut terbakar dan tidak dapat diselamatkan.

Pasien tsb diantaranya : 
1. Nama :  Abubakar Nataprawira.
TTL : Bandung, 27-06-1951.
Alamat : Villa Permata Gading Blok M No.21 Jakut.
Pekerjaan : Irjen Pol ( Purn ) Nrp. 51060124.

2. Nama :  Edi Suwandi.
Tgl lahir : 28- 12-1949.
Alamat. :  Pondok Jingga Mas II F4 No.16 Grand Galaxy Bekasi.

3.  Nama : dr. Dimas Qadar Radityo (pendamping Bpk. Edi Suwandi ).
Tgl lahir : 26-2-1988.
Alamat :  Pondok Timur Mas F4/16.

4.   Nama. : Sulistyo DR.M.PD.
Tgl lahir : 12-02-1962.
Alamat : Jln. Karang Ingat Raya No.8 Semarang

Pkl.14.00 Wib korban dapat dievakuasi dan dibawa ke kamar jenazah RSAL Mintoharjo sedangkan untuk Petugas dan Penunggu yg ada di ruang RUBT langsung dievakuasi ke UGD RSAL Mintoharjo untuk mendapat perawatan intensif akibat asap, diantaranya :

1. Ny. Eli
2. Ny. Lanasari
3. Nn. Almina
4. Ny. Tiskem
5. Tn. Wiman
6. Tn. Mukti
7. Ny. Minarmi
8. Nn. Nunung
9. Nn. Ana
10. Tn. Hari
11. PNS Sri anggota RUBT RSAL Mintoharjo.
12. Siswa Akper Hangtuah Jkt ( nama menyusul )
13. Tn. Kusno
14.  Ny. Eka
15. PNS Wien anggota RUBT RSAL Mintoharjo.
16. Ny. Kita
17.  Serma Ahmad Yani anggota RUBT RSAL Mintoharjo.

Sunday, March 13, 2016

5 Level Kepemimpinan

Saya beranggapan bahwa sejauh ini Anda sudah mulai memiliki gambaran tentang leadership/kepemimpinan dari informasi yang saya kemukakan sebelumnya. Konsep tentang kepemimpinan sebenarnya begitu kaya dan rumit tetapi dapat disederhanakan menjadi 5 tingkatan. Dimulai dari :

Level 1 : Position

Kepemimpinan dasar (Rights/hak)
Maksudnya adalah orang mau mengikuti Anda karena mereka memang harus melakukan hal tersebut atau lebih mudahnya dapat disebut sebagai pemimpin yang hanya mengandalkan jabatannya.

Note : Semakin lama Anda bertahan disini, semakin tinggi perputaran karyawan dan semakin rendah semangat juangnya.

Level 2 : Permission

Perkenanan (Relationships/hubungan ) : Orang mau mengikut Anda karena mereka ingin melakukan hal tersebut.

Note : Orang akan mengikuti Anda hingga melampaui wewenang yang ditetapkan kepada Anda. Di level ini, mungkin pekerjaan akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tetapi semakin lama Anda bertahan disini, Anda dapat membuat orang-orang disekitar Anda yang bermotivasi tinggi menjadi gelisah.

Level 3 : Production

Produktivitas (Results/hasil) : Orang mau mengikuti Anda karena apa yang telah Anda lakukan untuk organisasi tersebut.

Note : Di level ini biasanya kesuksesan sudah bisa dirasakan oleh sebagian besar orang. Mereka menyukai Anda dan mereka juga menyukai apa yang telah Anda lakukan.

Level 4 : People Development

Mengembangkan orang lain (Reproduction/reproduksi) : Disini orang mau mengikuti Anda karena apa yang telah Anda lakukan untuk mereka.

Note : Disini tempat pertumbuhan jangka panjang terjadi. Hal ini disebabkan karena komitmen Anda untuk mengembangkan para pemimpin yang akan menjamin pertumbuhan yang berkelanjutan bagi suatu organisasi dan manusia didalamnya.

Level 5 : Pinnacle

Puncak kepemimpinan (Respect/rasa hormat) : Orang mau mengikuti Anda karena siapa Anda dan apa yang Anda representasikan.

Note : Di level ini biasanya pemimpin sudah menghabiskan waktunya bertahun-tahun untuk mengembangkan orang lain dan organisasi. Hanya sedikit yang berhasil, tetapi mereka yang berhasil adalah orang-orang yang mengagumkan.

Oke, sekarang Anda pasti sudah mulai bisa mengkira-kira diposisi manakah Anda saat ini. Jika Anda masih di rentang level 1 hingga 4, sudah saatnya Anda mulai memikirkannya lebih serius sehingga Anda dapat level up ke tingkat yang lebih tinggi. Jangan lupa, rasakan perbedaan tiap level Anda memimpin sehingga kelak Anda juga dapat berbagi pengetahuan ini kepada rekan Anda sehingga rekan Anda juga dapat level up.!

*disarikan dr John Maxwell

BAHASA INGGRIS ORANG INDONESIA

Percakapan orang Indonesia.

Pagi ini sambil menunggu pesawat ke Singapore di Ruang Tunggu Terminal 2 F Bandara Soetta saya mendengar ada percakapan dalam bahasa Inggris di kursi sebelah. 
    
Seorang anak muda yang penampilannya lumayan cool, mengobrol dengan seorang bule. Mungkin sekadar membunuh waktu atau, mumpung ada kesempatan.
    
"Where are you going?" si bule membuka percakapan.
    
"To Yogya, Mister" jawab sang pemuda.
    
"What's the occasion?"
    
"Attending a wedding party, Mister!" jawab si pemuda sudah mulai 'pede'.
    
"Wow!" kata si bule setengah berteriak. "It must be quite interesting. Whose wedding party is that?" tambahnya.
    
"My father's party!" jwb si pemuda.
    
"Oh... so your dad's getting married again, huh?!" kata si bule seperti bergumam.
    
"No..no...no ..mister!" jawab si pemuda mulai agak bingung dan gugup.
    
"But you said it's your dad's wedding party?" kata si bule menegaskan.
     
"Ah.. I mean.. my dad has a.. a.. wedding download party.. Mister!" kata si pemuda tergopoh-gopoh.....

 "???!!!###::!!!..What!!!" kali ini si bule benar-benar puyeng ngga paham apa yang dikatakan lawan bicaranya.
************
    

Usut punya usut, ternyata yang dimaksud dengan "Wedding Download" oleh pemuda tersebut adalah, bahwa ayahnya "Ngunduh Mantu"... (saya juga tidak tahu apa bahasa Inggrisnya yang pas....?)

Kata-kata Terakhir Steve Jobs Sebelum Meninggal

Dalam dunia bisnis, aku adalah simbol dari kesuksesan, seakan-akan harta dan diriku tidak terpisahkan.

Saat ini aku berbaring di rumah sakit, merenungi jalan kehidupanku, kekayaan, nama, dan kedudukan, semuanya itu tidak ada artinya lagi.

Malam yang hening, cahaya dan suara mesin di sekitar ranjangku, bagaikan nafasnya maut kematian yang mendekat pada diriku.

Sekarang aku mengerti, seseorang asal memiliki harta secukupnya untuk digunakan dirinya saja itu sudah cukup. Mengejar kekayaan tanpa batas itu bagaikan monster yang mengerikan.

Tuhan memberi kita organ-organ perasa, agar kita bisa merasakan cinta kasih yang terpendam dalam hati kita yang paling dalam. Tapi bukan kegembiraan yg datang dari kehidupan yg mewah — itu hanya ilusi saja.

Harta kekayaan yg aku peroleh saat aku hidup, tak mungkin bisa aku bawa pergi. Yang aku bisa bawa adalah kasih yang murni yang selama ini terpendam dalam hatiku. Hanya cinta kasih itulah yang bisa memberiku kekuatan dan terang.

Ranjang apa yg termahal di dunia ini? Ranjang org sakit. Org lain bisa bukakan mobil untukmu, orang lain bisa kerja untukmu, tapi tidak ada orang bisa menggantikan sakitmu. Barang hilang bisa didapat kembali, tapi nyawa hilang tak bisa kembali lagi.

Saat kamu masuk ke ruang operasi, kamu baru sadar bahwa kesehatan itu betapa berharganya.

Kita berjalan di jalan kehidupan ini. Dengan jalannya waktu, suatu saat akan sampai tujuan. Bagaikan panggung pentas pun, tirai panggung akan tertutup, pentas telah berakhir.

Yg patut kita hargai dan sayangkan adh hubungan kasih antar keluarga, cinta suami-istri juga kasih persahabatan antar teman.


HARGAI SETIAP DETIK DALAM KEHIDUPAN KITA, ISI HIDUP KITA DENGAN PERKARA PERKARA YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN UANG. 

SAYA BUKAN ORANG BUTA...

"Apa anda ini di bayar sama Ahok untuk kampanye ?"

Pertanyaan ini muncul waktu seminar kemarin di Pamulang saat saya diundang jadi pembicara. 

Saya selalu ketawa kalau mendengar pertanyaan ini. Kenapa ukuran melakukan sesuatu itu harus bersifat materi ? Apakah sudah begitu parahnya sikap skeptis di masyarakat kita terhadap nilai2 sehingga ukuran nilai selalu harus bersifat materi ?

Buat saya, Ahok adalah seorang revolusioner. Ia Che guevara di bidangnya. Ia Soekarno di tempatnya. Ia Mahatma Gandhi dalam geraknya. Sebuah pemberontakan terhadap budaya maling yang sudah menjadi tradisi di negara ini sehingga dikenal dengan nama "Negeri para bedebah". 

Sepak terjangnya membakar sarang tikus adalah tindakan yg fenomenal, dimana di daerah lain begitu tenangnya karena semua mendapat jatah yang sama. Keberpihakannya kepada rakyat kecil dengan memindahkan mereka dr tempat kumuh yang dikelola bangsat berkaki dua ke rumah susun yang layak sekalian memberinya usaha, adalah mengembalikan kemanusiaan yang telah lama hilang di hati pejabat2 kita.

Ahok itu anomali. Ia hadir di tengah2 mayoritas muslim yang berperilaku munafikin, dan mengembalikan nilai2 yang sebenarnya menjadi nilai dasar Islam yg sudah lama tenggelam, yaitu keadilan. Ia berperang dengan semua kelemahannya. Ia mengangkat gaji penyapu jalan dan penjaga kubur smp pada tingkat kelayakan.

Lalu, kenapa saya tidak membela Ahok ? Lalu, kenapa saya tidak meng-kampanyekan dia ? Lalu, kenapa saya tidak memberikan suara saya untuk dia ?

"Trus, apa bayarannya untuk abang ?" Keberpihakan pada yang benar, itu sudah cukup.  Saya tidak buta...

Imam Ali as berkata " Kejahatan tumbuh bukan karena banyaknya orang jahat, tetapi karena diamnya orang2 baik.." Dan saya tidak mau menjadi orang diam ketika satu tokoh muncul dengan segala upayanya untuk mengembalikan semua ke tempat yang semestinya. Saya harus ikut berjuang bersama mereka di ranah yang saya bisa. 

Apakah itu salah ?

Saya salah ketika saya tidak bersuara. Saya salah ketika hanya menggerutu pada situasi tapi tidak ikut mendorong perubahan. Saya salah ketika mendukung orang2 yang sibuk menjatuhkan Ahok, bukan sibuk dengan visinya untuk Jakarta. Saya salah ketika seorang sudah berani berada di jalur independen, jalur anti mainstream untuk berjuang dan saya jadi pecundang dengan hanya berkata "saya netral..." 

Saya salah ketika tidak mengatakan benar ya benar. Saya salah ketika tidak mampu melihat kebenaran.

Perlukan uang untuk membayar semua itu ? Sama sekali tidak. Uang tidak bisa membeli hati nurani. Buat saya cukuplah secangkir kopi hitam yang menyadarkan bahwa nilai seorang manusia terletak dari bagaimana ia memegang prinsip keadilan dalam hidupnya.

"Kebenaran itu tidak bisa dilihat dari individu2-nya. Llihatlah kebenaran dari kebenaran itu sendiri.." Imam Ali as.

Sudah saatnya bergerak, bergeraklah atau selalu hidup dalam keraguan..

DENNY SIREGAR

Thursday, March 3, 2016

Sakit adalah Introspeksi

Dr. Tan Shot Yen lahir di Beijing, 17 September 1964 dan dibesarkan di Jakarta. Ia kuliah di Fakultas Kedokteran Universistas Tarumanegara dan lulus Profesi Kedokteran Negara FKUI pada tahun 1991. Dokter Tan Shot Yen dikenal sebagai seorang dokter yang kritis dan sering diundang sebagai pembicara dan narasumber di berbagai seminar. Selain sebagai dokter, dia juga praktisi Braingym dan Quantum, serta Hypnoterapist.

Menurut Dr. Tan Shot Yen, "Kesalahan pasien dalam berobat hanyalah mencari tahu bagaimana'. Bagaimana caranya menurunkan tensi, menurunkan kadar gula, menguruskan badan, menghilangkan senewen atau sakit di jemari. Jika Anda Cuma tanya 'bagaimana', Anda akan jatuh menjadi sekadar konsumen. Pertanyaan terpenting adalah mengapa Anda sampai sakit?" urainya.


Wanita 45 tahun ini memang tak mau punya pasien yang yang mengharapkan pil atau tongkat ajaib untuk membereskan tubuhnya."Saya mau pasien yang taking ownership of their own body. Itu badan anda. Buat apa dokter yang sok tahu menyuruh ini-itu? Yang benar buat dokter belum tentu benar buat Anda." "Sampai kapan seseorang mau tergantung pada obat-obatan? Apakah setelah mengonsumsi obat dia benar-benar sembuh? Jawabannya tidak. Karena begitu obat berhenti, dia sakit lagi. Berapa banyak dokter hanya bertanya 'sakit apa' lalu berkata 'ini obatnya'? Dia tidak memberikan pendidikan atau menjelaskan asal usul penyakit. Pasien dalam hal ini mengamini saja, padahal pasien harusnya memahami perannya dalam menciptakan penyakitnya, " jelas dr. Tan.

"Sakit adalah introspeksi." Ketika sakit, saya berhenti dan menoleh ke belakang. Apa yang 'jalan' dan 'nggak jalan' selama ini? Nah, menjadi sembuh adalah keberhasilan introspeksi dan menemukan cara untuk lebih maju lagi. Dalam fase inilah sesungguhnya peran dokter sangat diperlukan untuk membimbing pasien menemukan kesembuhannya dan tidak  hanya meninabobokan pasien dengan obat.

Menurut dr. Tan, kita memasuki era kebablasan mengonsumsi obat. Akhirnya, obat dijadikan demand. Setelah demand melambung tinggi, masyarakat digenjot untuk mendapatkan penghasilan lebih yang sebagian besar akhirnya berakhir di atas kertas resep (habis untuk menebus obat – obatan). Lihatlah berapa banyak orang yang harus berusaha mati-matian demi kep-erluan berobat salah satu anggota keluarga.

"Akibat perkembangan ilmu kedokteran – terutama setelah ditemukannya alat pacu dan cangkok jantung, tubuh manusia yang tadinya holistic lalu dipecah-pecah. Kalau kepala sakit yang diobati, ya kepala saja. Kita terlepas dari tubuh, emosi, dan kecerdasan spiritual. Tubuh manusia hanya jadi seperangkat mesin. Kalau ada yang salah, kita pergi ke bengkel. Dan, rumah sakitlah bengkel terbesarnya. Betul, badan manusia terlalu kompleks untuk dipegang satu ahli saja. Manusia boleh dipegang beberapa ahli, asal mereka sama-sama sadar bahwa manusia diciptakan Tuhan. Masalahnya, dokter punya arogansi profesi. Seorang dokter biasanya susah dibilangin dan selalu merasa benar," tuturnya lugas.

Inilah beberapa tips sehat ala Dokter Tan.
Semua karbohidrat buruk seperti gula dan turunannya, terigu, beras dan pati, akan cepat diubah menjadi gula dan masuk dalam peredaran darah. Kalau ini terjadi terus-menerus, efek lanjutannya adalah menurunnya daya tahan tubuh, kegemukan, kolesterol, diabetes, dan penyempitan pembuluh darah.

Sebagai ganti karbohidrat buruk, sayur mentah dan beberapa jenis buah bisa menjadi menu yang mengenyangkan dan menyehatkan. Dengan makan sayur mentah dan buah, dijamin enzim berguna masih hidup dan semua vitamin serta antioksidannya tidak hilang. Porsinya tentu harus memadai, misalnya untuk makan siang (dengan takaran satu dinner plate): 1 ikat selada segar, 1 bh timun, 1 bh tomat, 1 bh alpukat, dan 1 bh apel. Sayuran yang kita konsumsi sebaiknya tidak dimasak, karena manfaatnya sudah tidak ada lagi (nilai gizi sudah hilang).

BUAH YANG BAIK untuk dimakan antara lain: apel, alpukat, dan pir. Buah lain seperti durian, mangga, pepaya, dan pisang sebaiknya dihindari karena kandungan gulanya tinggi. Satu lagi, sebaiknya buah dimakan langsung dan tidak diolah terlebih dulu seperti misalnya dijus. Karena dengan dijus, terjadi pengrusakan serat, sehingga yang Anda asup hanya gulanya saja.

BAHAN MAKANAN sebaiknya tidak digoreng, karena bisa menjadi racun dan merusak organ tubuh. Usahakan makanan dikukus atau dibakar. Jika dibakar, jangan lupa dialasi daun.

PRODUK KEDELAI yang baik adalah tempe, oncom dan tauco. Sedangkan susu kedelai, kecap dan tahu kurang bagus, karena bisa menjadi pencetus kanker.

BUAH JERUK BAIK UNTUK TUBUH, karena mengandung anti-oksidan, tapi jangan dicampur dengan air hangat atau panas, karena bisa berubah menjadi racun.

HINDARI MENGONSUMSI MAKANAN YANG TELAH MELEWATI PENGAWETAN atau dalam kaleng, karena bisa sebagai pencetus penyakit.

JANGAN PERNAH MERASA TUA, karena bisa membuat seluruh tubuh kita terasa semakin tua. Usia boleh tua, tapi pikiran dan semangat kita harus tetap muda, supaya seluruh energi positif mengaliri seluruh tubuh kita.

JIKA ANDA MERASA SAKIT seperti flu, hipertensi, kolesterol dan lain-lain, coba instropeksi makanan atau minuman apa saja yang telah Anda konsumsi sebelumnya, lalu hindari. Jangan hanya minum obat, tapi makanan buruk yang Anda asup tidak berubah.

JANGAN TERPAKU PADA PEMIKIRAN BAHWA SEHAT HANYA DARI MAKANAN DAN OLAH RAGA SAJA. Sehat yang sebenarnya adalah sehat secara makanan, sehat secara fisik (olah raga yang benar), dan sehat secara pikiran dan hati/iman.

Tuesday, March 1, 2016

MENDETEKSI KESOMBONGAN

Seorang pria yg bertamu di rumah seorang Kyai tertegun keheranan. Dia melihat sang Kyai sedang sibuk bekerja sendiri menyikat lantai rumahnya sampai bersih.

Pria itu bertanya:
“Apa yg sedang Anda lakukan Pak Kyai ?”

Pak Kyai menjawab:
“Tadi sy kedatangan tamu yg meminta nasehat. Sy berikan banyak nasehat yg bermanfaat. Namun, setelah tamu itu pulang saya merasa jadi orang yg hebat. Kesombongan saya mulai muncul, karena itu saya melakukan PEKERJAAN INI untuk membunuh perasaan SOMBONG.”

SOMBONG adalah PENYAKIT yg sering menghinggapi kita semua, benih2nya kerap muncul tanpa kita sadari. 

Ditingkat 1 :
SOMBONG disebabkan oleh FAKTOR MATERI, di mana kita merasa :
~ Lebih kaya,
~ Lebih berkuasa,
~ Lebih tinggi jabatan,
~ Lebih rupawan, &
~ Lebih terhormat dari org lain. 

Ditingkat ke-2 : 
Sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan kita, dimana kita merasa :
~ Lebih pintar,
~ Lebih kompeten,
~ Lebih berpengalaman
~ Lebih berwawasan dibandingkan orang lain. 

Ditingkat ke-3 :
SOMBONG disebabkan oleh FAKTOR KEBAIKAN, kita sering menganggap diri:
~ Lebih bermoral,
~ Lebih pemurah,
~ Lebih banyak amal baiknya,
~ Lebih tulus dibandingkan orang lain.

Yg menarik, semakin tinggi tingkat KESOMBONGAN kita, semakin sulit pula kita mendeteksinya.

SOMBONG karena MATERI mudah terlihat, namun SOMBONG karena PENGETAHUAN, apalagi SOMBONG KEBAIKAN, SULIT TERDETEKSI, karena seringkali hanya berbentuk benih2 halus di dlm batin kita.

Cobalah setiap hari, kita INTROSPEKSI diri kita karena setiap hal yg baik & yg bisa kita lakukan hendaklah kita banyak2 bersyukur pada NYA krn semua itu adalah "ANUGRAH ALLAH SWT"

KESOMBONGAN hanya akan membawa kita pada KEJATUHAN yg mendalam.

Tetap BERSABAR, RENDAH HATI, sebab kadang orang yg kita hadapi ternyata lbh hebat dr kita, lebih banyak amalnya dan lebih tawaddlu, meski dia terlihat biasa-biasa saja, tidak punya jabatan apapun misalnya.

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yg terhindar dari kesombongan dan termasuk orang yg bersabar memperoleh petunjuk dan keridhoan Allah SWT.

Aamiin...

Ringkasan Tata Cara Sholat Gerhana



1) Berniat dalam hati untuk sholat gerhana karena Allah ta’ala, melafazkannya termasuk bid’ah (mengada-ada dalam agama)

2) Takbiratul ihram.

3) Membaca istiftah, ta’awwudz, dan basmalah secara pelan.

4) Membaca Al-Fatihah dan surat lain secara keras, dan hendaklah memanjangkan bacaan, yaitu memlih surat yang panjang.

5) Bertakbir lalu ruku’ dan memanjangkan ruku’, yaitu membaca bacaan ruku’ dengan mengulang-ngulangnya.

6) Kemudian bangkit dari ruku’ seraya mengucapkan, ”Sami’allahu liman hamidah,” jika badan sudah berdiri tegak membaca, ”Rabbana walakal hamdu.”

7) Setelah itu tidak turun sujud, namun kembali membaca Al-Fatihah dan surat panjang, akan tetapi lebih pendek dari yang pertama.

8) Bertakbir lalu ruku’ dengan ruku’ yang panjang, namun lebih pendek dari ruku’ yang pertama.

9) Kemudian bangkit dari ruku’ seraya mengucapkan, ”Sami’allahu liman hamidah,” jika badan sudah berdiri tegak membaca, ”Rabbana walakal hamdu.” Dan hendaklah memanjangkan berdiri I’tidal ini

10) Bertakbir lalu sujud dengan sujud yang panjang, yaitu dengan mengulang-ngulang bacaan sujud.

11) Kemudian bangkit untuk duduk di antara dua sujud seraya bertakbir, lalu duduk iftirasy dan hendaklah memanjangkan duduknya.

12) Kemudian sujud kembali seraya bertakbir dan hendaklah memanjangkan sujud, namun lebih pendek dari sujud sebelumnya.

13) Bangkit ke raka’at kedua seraya bertakbir, setelah berdiri untuk rakaat kedua maka lakukanlah seperti pada raka’at yang pertama, namun lebih pendek dari raka’at yang pertama

14) Kemudian duduk tasyahhud, membaca shalawat, dan salam ke kanan dan ke kiri.

15) Setelah itu disunnahkan bagi imam berkhutbah kepada manusia untuk mengingatkan mereka bahwa gerhana matahari dan bulan adalah tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah untuk mempertakuti hamba-hamba-Nya dan agar mereka memperbanyak dzikir dan sedekah.

16) Waktu melakukan sholat gerhana adalah selama terjadinya gerhana, apabila gerhana telah selesai sedang sholatnya belum selesai maka hendaklah sholatnya dipendekkan dan tetap disempurnakan, namun tidak lagi dipanjangkan (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 8241).

17) Apabila sholat selesai namun gerhana belum selesai maka tidak disyari’atkan untuk mengulang sholatnya, tapi hendaklah melakukan sholat sunnah yang biasa dikerjakan, atau memperbanyak dzikir dan do’a sampai gerhana selesai (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 9241).

18) Disyari’atkan untuk melakukannya secara berjama’ah di masjid. Dan dibolehkan untuk melakukannya di rumah, namun lebih baik di masjid (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 4041, 5041).

19) Disunnahkan menyeru manusia untuk sholat dengan ucapan, “Ash-Sholaatu Jaami’ah.” Tidak ada adzan dan iqomah untuk sholat gerhana selain seruan tersebut, dan boleh diserukan berulang-ulang (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 2241).

20) Apabila bertemu waktu sholat wajib dan sholat gerhana maka didahulukan sholat wajib (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 9931).

21) Boleh mengerjakan sholat gerhana meski di waktu-waktu terlarang, karena pendapat yang kuat insya Allah, yang terlarang hanyalah sholat-sholat sunnah mutlak, yang tidak memiliki sebab (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 0341, 1341).

22) Apabila makmum tidak mendapatkan ruku’ yang pertama maka ia tidak mendapatkan raka’at tersebut, hendaklah ia menyempurnakannya setelah imam salam dengan raka’at yang sempurna, yaitu tiap raka’at terdiri dari dua ruku’ (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 9141).

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

www.fb.com/sofyanruray.info

http://sofyanruray.info/

[Sumber: http://sofyanruray.info/ringkasan-tata-cara-sholat-gerhana/ ]

Jokowi Dukung Ahok ‘Hancurkan’ Jakarta, Yang Biasa Bermain Terusik

Memuji Jokowi, membanggakan Ahok, mungkin sudah basi.

Tetapi ada satu hal yang terus mengusik pikiran saya: melihat hubungan luar biasa keduanya pada masa lalu dan sekarang. Publik tahu bahwa Jokowi adalah Jawa yang Islam sedangkan Ahok adalah Tionghoa yang Kristen. Namun publik mungkin kurang tahu esensi mendalam hubungan keduanya.

Dalam diri Jokowi dan Ahok meleburlah sifat patriotisme, nasionalisme dan pancasilaisme sejati yang menyala-nyala. Makna kedalaman rasa dan nilai religiositas keislaman dan kekristenan bertemu dalam diri mereka. Nilai-nilai kedua agama besar itu menjadi nyata, hidup dan bercahaya ketika dua orang ini bertemu. Budaya Jawa yang tertanam dalam diri Jokowi dan nilai-nilai hidup warisan leluhur Ahok yang Tionghoa, menyatu, bertemu, saling melengkapi dan membentuk mazab dan etos kerja dahsyat sebagai pemimpin hebat.

Ketika gaya kepemimpinan khas Jokowi bertemu dengan gaya kepemimpinan sangar Ahok, maka keduanya menjadi klop, sempurna. Sama sekali kedua gaya itu tidak bertentangan, tetapi pas, tepat, ibarat baut dan mur, saling mengikat. Itulah sebabnya ketika Jokowi bertemu dengan Ahok, ia merasa lebih hebat, lebih kuat dan lebih sangar. Demikian juga sebaliknya. Ketika Ahok bertemu dengan Jokowi, jiwa, energi dan aura Ahok semakin bersinar dan berkilau.

Publik sangat jarang melihat Ahok mengkritik pedas Jokowi. Demikian juga sebaliknya Jokowi sangat jarang mengkritik gaya Ahok memerintah. Karena memang, gaya kepemimpinan Jokowi baik saat ia DKI-1 maupun setelah menjadi RI-1, sangat pas dan mengena di hati Ahok. Hal yang sama juga dirasakan Jokowi. Sesangar apapun Ahok saat menjadi wakilnya sebagai DKI-2 dan sekarang menjadi DKI-1, juga pas, tepat dan mengena. 
Nah inilah hubungan yang luar biasa kedua pemimpin terbaik bangsa saat ini.

Berdasarkan hubungan yang bagai baut dan mur itu, Ahok menjelma menjadi jantung kekuatan Jokowi di pentas nasional. Jika Ahok dilumpuhkan, maka hilanglah setengah kekuatan Jokowi. Di pentas nasional dan terutama di DKI, Ahok adalah bamper hebat sekaligus buldozernya Jokowi. Ahok adalah perpanjangan tangan paling dipercaya Jokowi. 

Keberadaan Ahok di ibukota, yang juga sangat strategis, adalah keuntungan sangat besar bagi Jokowi. Tanpa Ahok di Jakarta, maka setengah energi Jokowi habis untuk membenahi carut-marut Jakarta.

Jika Jokowi dengan cepat melantik Ahok sebagai Gubernur DKI untuk mengganti dirinya yang telah menjadi Presiden awal tahun 2015, itu karena alasan strategis Jokowi. Jokowi sangat butuh Ahok di Jakarta.Walaupun mayoritas anggota DPRD DKI Jakarta tidak menginginkan Ahok sebagai Gubernur, namun karena dukungan Jokowi, para anggota DPRD itu tidak berkutik. Hak yang sama ketika Ahok digoyang dengan hak angket lalu mau dilanjutkan dengan hak menyatakan pendapat, Jokowi lagi-lagi mem-beking Ahok. Ketika BPK dan mungkin juga KPK berkomplotan melakukan kriminalisasi kepada Ahok terkait kasus Sumber Waras, lagi-lagi Jokowi muncul membela Ahok. Jelas dan amat jelas, tanpa Jokowi, Ahok sudah mungkin terdepak dari DKI-1.

Berkat beking penuh Jokowi di tingkat nasional itu, Ahok tanpa ragu ‘menghancurkan’ Jakarta. Menghancurkan dalam arti mengubah drastis, merevolusi dan merebut Jakarta dari tangan koruptor, mafia, preman dan para pengemplak pajak. Dia menghancurkan wajah Jakarta dari tangan preman Tanah Abang, Monas dan Kemayoran.

Dia menghancurkan dan merebut Jakarta dari tangan pemukim liar, parkir liar, PKL liar dan perampas tanah negara di Waduk Pluit, Ria-Rio dan Kampung Pulo. Ahok pun dengan ganas mendesain ulang budaya birokrat Jakarta yang korup tanpa ampun. Ia memecat, merotasi, mengganti, menstafkan, memecat lagi dan mengangkat kembali para pejabat di DKI yang tidak bisa bekerja. Mental ‘raja’ para pejabat DKI Jakarta dihancurkan Ahok dengan lelang jabatan, pemecatan dan aplikasi atmosfir persaingan sengit.


Tak tanggung-tanggung, dalam upayanya menghancurkan Jakarta dari tangan penjahat, Ahok menampilkan wajah garang dan lontaran-lontaran kasar yang pedas, menyinggung dan menyayat hati. Kata-kata Ahok yang kasar kepada mereka yang mencuri uang negara luar biasa tajam. Akibatnya, orang-orang Tionghoa yang nota bene sesuku Ahok, terusik dan takut. Saking takutnya warga Tionghoa akibat kata-kata kotor Ahok itu, membuat Jaya Suprana (pendiri MURI) Indonesia yang juga berasal dari etnis Tionghoa, ikut-ikutan terusik dan menulis surat terbuka kepada Ahok. Menurut Jaya Suprana, kata-kata kasar Ahok itu bisa menyulut kebencian luar biasa suku lain untuk menyerang kembali etnis Tionghoa, etnis Ahok sendiri.

Namun Ahok benar-benar berbeda, dia tidak peduli keselamatan etnisnya, agamanya, keluarganya dan bahkan dirinya sendiri. Ahok juga terus menghancurkan mental korup para anggota DPRD DKI Jakarta dengan program e-budgeting-nya. Perang heroik Ahok yang melawan semua anggota DPRD semester pertama tahun 2015 yang lalu, telah berhasil meluluhlantakan keganasan korupsi anggota DPRD. 

Berkat beking penuh Jokowi, Ahok pun keluar sebagai pemenang vs DPRD. Selanjutnya, Ahok tanpa ragu terus menghancurkan Jakarta dari tangan para pengemplak pajak di berbagai perusahaan, pabrik, restoran, hotel, toko, pengembang, transportasi (baca Metromini), tempat-tempat hiburan termasuk yang terakhir Kalijodo. Manusia Jakarta yang korup, liar, tak taat pajak, makan gaji buta, terus dihancurkan Ahok.

Ahok juga terus menghancurkan Jakarta yang miskin dengan filosofofi keadilan sosialnya. Ahok membebaskan rumah yang berharga di bawah 1 miliar dari PBB, sedangkan rumah-rumah mewah dikenakan pajak berkali-kali lipat.  

Ahok terus dan terus membangun gedung-gedung mewah sekolah negeri yang lebih mentereng, mengubah wajah Jakarta dengan jalan cor beton, trotoar bagi pejalan kaki, taman dan sarana-sarana publik lainnya. Ia terus menggelontarkan dana besar lewat  kartu Jakarta pintar untuk membiayai pendidikan anak sekolah dasar sampai perguruan tinggi dan kartu Jakarta sehat bagi kaum miskin. Inilah keadilan sosial yang diyakini Ahok.

Satu hal yang menyolok dari Ahok. Mental pengusaha yang selama ini biasa kongkanglingkong dengan pejabat Pemrov DKI Jakarta, sekarang semakin dihancurkan Ahok. Hasilnya, para pengusaha yang dulunya sangat mudah meraup keuntungan dari kongkanglingkong itu (baca bagi-bagi proyek) tidak lagi bisa lagi seperti itu dan sekarang banyak yang bangkrut. Dan kita pun tahu para pengusaha yang selama ini dimanjakan dengan berbagai proyek dengan keuntungan melimpah, sudah dihancurkan Ahok.

Harapan besar pengusaha untuk mendapat proyek berkat keberadaan Ahok sebagai DKI-1, justru sebaliknya malah semakin sulit alias tidak mudah kongkanglingkong lagi. Katanya, dulu untuk mendapat proyek cukup mudah, cukup anggarkan fee 10-20 % maka proyek akan dengan mudah diperoleh. 

Sekarang, sangat berbeda. Untuk mendapat satu proyek, para pengusaha harus bersaing dengan yang lain. Siapa yang menawar paling murah, memenuhi syarat, punya kompetensi, dialah yang menang. Keuntungan pun tidak seberapa. Itulah efek sepak terjang Ahok yang menghancurkan Jakarta dari kongkanglingkong pejabat-pengusaha.

Di wilayah kerja saya sekitar Pluit, Muara Karang dan Pantai Indah Kapuk, banyak pengusaha yang mengeluh. Katanya, dulu sangat aman dan gampang jika ingin membuka dan mengembangkan cabang usaha karena tidak pelototi pajaknya. 

Sekarang, begitu pengusaha sudah mulai membuka usaha, para petugas sudah rajin interogasi ijin usaha, pajak online dan sebagainya. Benar, bahwa mengurus ijin sangat mudah dan tidak perlu sogok lagi. Namun soal pajaknya, itulah yang memusingkan pengusaha karena dulunya mereka nyaman bermain-main soal pajak.

Di tahun 2016, sekali lagi tahun emasnya Ahok. Dengan beking penuh Jokowi, Ahok terus mendesain ulang Jakarta agar menjadi The World class city. 

Jika Ahok berhasil memenangi pertarungan perebutan DKI-1 pada Pilkada 2017 mendatang, maka langkah Ahok untuk menghancurkan Jakarta lama dan mengubahnya menjadi Jakarta baru akan terwujud 😃 

Mari kita doakan bersama agar Ahok bisa mewujudkan menjadi Jakarta yg baru dan bersih.

Sumber: Sirulo Multimedia 

Monday, February 29, 2016

Info Perubahan Harga BBM&BBK PT.Pertamina MOR.IV

Berikut ini Info Perubahan Harga BBM&BBK PT.Pertamina MOR.IV tmt.01-Maret-2016 jam.00.00 WIB (Tenga h MaLam ini): 

BIOSOLAR SUBSIDI: 5.650 (Tetap), 

PREMIUM: 7.050 (Tetap), 

PERTALITE: 7.500 (TURUN), 

PERTAMAX: 8.050 (TURUN)

PERTAMAXPLUS: 8.950 (TURUN), 

P.DEX: 8.900 (TURUN), 

SOLAR KEEKONOMIAN/NPSO: 7.650 (TURUN). 

Mohon semua petunjuk harga di SPBU diubah.  
Dan mohon berbagi Info ini dengan teman/rekan sesama SPBU. 

Terimakasih

BERBAHAGIALAH!

Artikel dr  tetangga sebelah ini cukup panjang, tp insya Alloh bermanfaat sekali...kita diajari utk selalu husnuzhon/positive thinking dan tawakal/pasrah...

Daerah perumahan Bayeman Permai Jalan Wates KM 3 siang itu cukup lengang. Maklum jam kerja, mungkin para penghuninya sedang beraktivitas di luar. Di teras yang menjadi ruang tunggu itu hanya ada aku, kawanku Mahmud –orang yang mengantarku, dan seorang bapak pengidap vertigo dari Kulonprogo.

Kami sedang antri periksa kesehatan. Dokter yang kami kunjungi ini termasuk dokter sepuh –berusia sekitar tujuh puluhan- spesialis penyakit dalam yang sudah sangat berpengalaman. Jam sembilan pagi aku dan Mahmud berangkat dari Krapyak, dengan kondisi perut yang masih tak karuan. Sesampainya di depan rumah Dokter Paulus Adrian itu, aku muntah walau memang tak banyak. Hanya muntah basa-basi karena perut mual disiksa belasan polisi tidur di perjalanan tadi.

Sambil duduk menunggu, kuatur napas untuk mengontrol sensasi mules dan cemas yang muncul tiba-tiba. Rasa ingin buang air, sedikit mual, cemas, dan semacamnya adalah hal yang biasa kualami saat asam lambung naik. Persis seperti orang yang lagi stress atau grogi parah.

Pintu terbuka, bapak pengidap vertigo keluar sambil membawa bingkisan obatnya. Aku pun masuk. “Silakan duduk,” sambut Pak Paulus. Aku duduk di depan meja kerjanya, mengamati pria sepuh berkacamata ini yang sedang sibuk menulis identitasku di kartu pasien.

“Apa yang dirasakan, Mas?”

Aku pun bercerita tentang apa yang kualami sejak 2013 hingga saat ini. Mulai dari awal merasakan sakit maag, peristiwa-peristiwa kram perut, ambruk berkali-kali, gejala dan vonis tipes, pengalaman opnam dan endoskopi, derita GERD, hingga tentang radang duodenum dan praktek tata pola makan Food Combining yang kulakoni.

“Kalau kram perutnya sudah enggak pernah lagi, Pak,” ungkapku, “Tapi sensasi panas di dada ini masih kerasa, panik juga cemas, mules, mual. Kalau telat makan, maag saya kambuh. Apalagi setelah beberapa bulan tata pola makan saya amburadul lagi.”

“Tapi buat puasa kuat ya?”

“Kuat, Pak.”

“Orang kalau kuat puasa, harusnya nggak bisa kena maag!”

Aku terbengong, menunggu penjelasan.

“Asam lambung itu,” terang Pak Paulus, “Diaktifkan oleh instruksi otak kita. Kalau otak kita bisa mengendalikan persepsi, maka asam lambung itu akan nurut sendiri. Dan itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang puasa.”

“Maksudnya, Pak?”

“Orang puasa ‘kan malamnya wajib niat to?”

“Njih, Pak.”

“Nah, niat itulah yang kemudian menjadi kontrol otak atas asam lambung. Ketika situ sudah bertekad kuat besok mau puasa, besok nggak makan sejak subuh sampai maghrib, itu membuat otak menginstruksikan kepada fisik biar kuat, asam lambung pun terkendali. Ya kalau sensasi lapar memang ada, namanya juga puasa. Tapi asam lambung tidak akan naik, apalagi sampai parah. Itu syaratnya kalau situ memang malamnya sudah niat mantap. Kalau cuma di mulut bilang mau puasa tapi hatinya nggak mantap, ya tetap nggak kuat. Makanya niat itu jadi kewajiban, ‘kan?”

“Iya, ya, Pak,” aku manggut-manggut nyengir.

“Manusia itu, Mas, secara ilmiah memang punya tenaga cadangan hingga enam puluh hari. Maksudnya, kalau orang sehat itu bisa tetap bertahan hidup tanpa makan dalam keadaan sadar selama dua bulan. Misalnya puasa dan buka-sahurnya cuma minum sedikit. Itu kuat. Asalkan tekadnya juga kuat.”

Aku melongo lagi.

“Makanya, dahulu raja-raja Jawa itu sebelum jadi raja, mereka tirakat dulu. Misalnya puasa empat puluh hari. Bukanya cuma minum air kali. Itu jaman dulu ya, waktu kalinya masih bersih. Hahaha,” ia tertawa ringan, menambah rona wajahnya yang memang kelihatan masih segar meski keriput penanda usia.

Kemudian ia mengambil sejilid buku di rak sebelah kanan meja kerjanya. Ya, ruang praktek dokter dengan rak buku. Keren sekali. Aku lupa judul dan penulisnya. Ia langsung membuka satu halaman dan menunjukiku beberapa baris kalimat yang sudah distabilo hijau.

“Coba baca, Mas: ‘mengatakan adalah mengundang, memikirkan adalah mengundang, meyakini adalah mengundang’. Jadi kalau situ memikirkan; ‘ah, kalau telat makan nanti asam lambung saya naik’, apalagi berulang-ulang mengatakan dan meyakininya, ya situ berarti mengundang penyakit itu. Maka benar kata orang-orang itu bahwa perkataan bisa jadi doa. Nabi Musa itu, kalau kerasa sakit, langsung mensugesti diri; ah sembuh. Ya sembuh. Orang-orang debus itu nggak merasa sakit saat diiris-iris kan karena sudah bisa mengendalikan pikirannya. Einstein yang nemuin bom atom itu konon cuma lima persen pendayagunaan otaknya. Jadi potensi otak itu luar biasa,” papar Pak Paulus.

“Jadi kalau jadwal makan sembarangan berarti sebenarnya nggak apa-apa ya, Pak?”

“Nah, itu lain lagi. Makan harus tetap teratur, ajeg, konsisten. Itu agar menjaga aktivitas asam lambung juga. Misalnya situ makan tiga kali sehari, maka jarak antara sarapan dan makan siang buatla sama dengan jarak antara makan siang dan makan malam. Misalnya, sarapan jam enam pagi, makan siang jam dua belas siang, makan malam jam enam petang. Kalau siang, misalnya jam sebelas situ rasanya nggak sempat makan siang jam dua belas, ya niatkan saja puasa sampai sore. Jangan mengundur makan siang ke jam dua misalnya, ganti aja dengan minum air putih yang banyak. Dengan pola yang teratur, maka organ di dalam tubuh pun kerjanya teratur. Nah, pola teratur itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang yang puasa dengan waktu buka dan sahurnya.”

“Ooo, gitu ya Pak,” sahutku baru menyadari.

“Tapi ya itu tadi. Yang lebih penting adalah pikiran situ, yakin nggak apa-apa, yakin sembuh. Allah sudah menciptakan tubu kita untuk menyembuhkan diri sendiri, ada mekanismenya, ada enzim yang bekerja di dalam tubuh untuk penyembuhan diri. Dan itu bisa diaktifkan secara optimal kalau pikiran kita optimis. Kalau situ cemas, takut, kuatir, justru imunitas situ turun dan rentan sakit juga.”

Pak Paulus mengambil beberapa jilid buku lagi, tentang ‘enzim kebahagiaan’ endorphin, tentang enzim peremajaan, dan beberapa tema psiko-medis lain tulisan dokter-dokter Jepang dan Mesir.

“Situ juga berkali-kali divonis tipes ya?”

“Iya, Pak.”

“Itu salah kaprah.”

“Maksudnya?”

“Sekali orang kena bakteri thypoid penyebab tipes, maka antibodi terhadap bakteri itu bisa bertahan dua tahun. Sehingga selama dua tahun itu mestinya orang tersebut nggak kena tipes lagi. Bagi orang yang fisiknya kuat, bisa sampai lima tahun. Walaupun memang dalam tes widal hasilnya positif, tapi itu bukan tipes. Jadi selama ini banyak yang salah kaprah, setahun sampai tipes dua kali, apalagi sampai opnam. Itu biar rumah sakitnya penuh saja. Kemungkinan hanya demam biasa.”

“Haah?”

“Iya Mas. Kalaupun tipes, nggak perlu dirawat di rumah sakit sebenarnya. Asalkan dia masih bisa minum, cukup istirahat di rumah dan minum obat tipes. Sembuh sudah. Dulu, pernah di RS Sardjito, saya anjurkan agar belasan pasien tipes yang nggak mampu, nggak punya asuransi, rawat jalan saja. Yang penting tetep konsumsi obat dari saya, minum yang banyak, dan tiap hari harus cek ke rumah sakit, biayanya gratis. Mereka nurut. Itu dalam waktu maksimal empat hari sudah pada sembuh. Sedangkan pasien yang dirawat inap, minimal baru bisa pulang setelah satu minggu, itupun masih lemas.”

“Tapi ‘kan pasien harus bedrest, Pak?”

“Ya ‘kan bisa di rumah.”

“Tapi kalau nggak pakai infus ‘kan lemes terus Pak?”

“Nah situ nggak yakin sih. Saya yakinkan pasien bahwa mereka bisa sembuh. Asalkan mau nurut dan berusaha seperti yang saya sarankan itu. Lagi-lagi saya bilang, kekuatan keyakinan itu luar biasa lho, Mas.”

Dahiku berkernyit. Menunggu lanjutan cerita.

“Dulu,” lanjut Pak Paulus, “Ada seorang wanita kena kanker payudara. Sebelah kanannya diangkat, dioperasi di Sardjito. 
Nggak lama, ternyata payudara kirinya kena juga. Karena nggak segera lapor dan dapat penanganan, kankernya merembet ke paru-paru dan jantung. Medis di Sardjito angkat tangan. 

Dia divonis punya harapan hidup maksimal hanya empat bulan.”

“Lalu, Pak?” tanyaku antusias.

“Lalu dia kesini ketemu saya. Bukan minta obat atau apa. 
Dia cuma nanya; ‘Pak Paulus, saya sudah divonis maksimal empat bulan. 

Kira-kira bisa nggak kalau diundur jadi enam bulan?’ 

Saya heran saat itu, saya tanya kenapa. 

Dia bilang bahwa enam bulan lagi anak bungsunya mau nikah, jadi pengen ‘menangi’ momen itu.”

“Waah.. Lalu, Pak?”

“Ya saya jelaskan apa adanya. Bahwa vonis medis itu nggak seratus persen, walaupun prosentasenya sampai sembilan puluh sembilan persen, 
tetap masih ada satu persen berupa kepasrahan kepada Tuhan yang bisa mengalahkan vonis medis sekalipun. 

Maka saya bilang; sudah Bu, situ nggak usah mikir bakal mati empat bulan lagi. 
Justru situ harus siap mental, bahwa hari ini atau besok situ siap mati. 
Kapanpun mati, siap! 
Begitu, situ pasrah kepada Tuhan, siap menghadap Tuhan kapanpun. Tapi harus tetap berusaha bertahan hidup.”

Aku tambah melongo. Tak menyangka ada nasehat macam itu. 
Kukira ia akan memotivasi si ibu agar semangat untuk sembuh, malah disuruh siap mati kapanpun. 
O iya, mules mual dan berbagai sensasi ketidaknyamanansudah tak kurasakan lagi.

“Dia mau nurut. Untuk menyiapkan mental siap mati kapanpun itu dia butuh waktu satu bulan. 
Dia bilang sudah mantap, pasrah kepada Tuhan bahwa dia siap. 
Dia nggak lagi mengkhawatirkan penyakit itu, sudah sangat enjoy. 
Nah, saat itu saya cuma kasih satu macam obat. Itupun hanya obat anti mual biar dia tetap bisa makan dan punya energi untuk melawan kankernya. 

Setelah hampir empat bulan, dia check-up lagi ke Sardjito dan di sana dokter yang meriksa geleng-geleng. Kankernya sudah berangsur-angsur hilang!”

“Orangnya masih hidup, Pak?”

“Masih. Dan itu kejadian empat belas tahun lalu.”

“Wah, wah, wah..”

“Kejadian itu juga yang menjadikan saya yakin ketika operasi jantung dulu.”

“Lhoh, njenengan pernah Pak?”

“Iya. 
Dulu saya operasi bedah jantung di Jakarta. Pembuluhnya sudah rusak. Saya ditawari pasang ring. 

Saya nggak mau. Akhirnya diambillah pembuluh dari kaki untuk dipasang di jantung.

Saat itu saya yakin betul sembuh cepat. Maka dalam waktu empat hari pasca operasi, saya sudah balik ke Jogja, bahkan dari bandara ke sini saya nyetir sendiri. 
Padahal umumnya minimal dua minggu baru bisa pulang. 
Orang yang masuk operasi yang sama bareng saya baru bisa pulang setelah dua bulan.”

Pak Paulus mengisahkan pengalamannya ini dengan mata berbinar. Semangatnya meluap-luap hingga menular ke pasiennya ini. Jujur saja, penjelasan yang ia paparkan meningkatkan harapan sembuhku dengan begitu drastis. 

Persis ketika dua tahun lalu pada saat ngobrol dengan Bu Anung tentang pola makan dan kesehatan. Semangat menjadi kembali segar!

“Tapi ya nggak cuma pasrah terus nggak mau usaha. 
Saya juga punya kenalan dokter,” lanjutnya, 
“Dulu tugas di Bethesda, aslinya Jakarta, lalu pindah mukim di Tennessee, Amerika. 

Di sana dia kena kanker stadium empat. Setelah divonis mati dua bulan lagi, dia akhirnya pasrah dan pasang mental siap mati kapanpun. 

Hingga suatu hari dia jalan-jalan ke perpustakaan, dia baca-baca buku tentang Afrika. 
Lalu muncul rasa penasaran, kira-kira gimana kasus kanker di Afrika. 
Dia cari-cari referensi tentang itu, nggak ketemu. Akhirnya dia hubungi kawannya, seorang dokter di Afrika Tengah.

Kawannya itu nggak bisa jawab. 
Lalu dihubungkan langsung ke kementerian kesehatan sana. Dari kementerian, dia dapat jawaban mengherankan, bahwa di sana nggak ada kasus kanker. 
Nah dia pun kaget, tambah penasaran.”

Pak Paulus jeda sejenak. Aku masih menatapnya penuh penasaran juga, “Lanjut, Pak,” benakku.

“Beberapa hari kemudian dia berangkat ke Afrika Tengah. 
Di sana dia meneliti kebiasaan hidup orang-orang pribumi. Apa yang dia temukan? 
Orang-orang di sana makannya sangat sehat. 
Yaitu sayur-sayuran mentah, dilalap, nggak dimasak kayak kita.

Sepiring porsi makan itu tiga perempatnya sayuran, sisanya yang seperempat untuk menu karbohidrat. Selain itu, sayur yang dimakan ditanam dengan media yang organik. Pupuknya organik pake kotoran hewan dan sisa-sisa tumbuhan. 

Jadi ya betul-betul sehat. 
Nggak kayak kita, sudah pupuknya pakai yang berbahaya, eh pakai dimasak pula. Serba salah kita. 

Bahkan beras merah dan hitam yang sehat-sehat itu, kita nggak mau makan. 
Malah kita jadikan pakan burung, ya jadinya burung itu yang sehat, kitanya sakit-sakitan.”

Keterangan ini mengingatkanku pada obrolan dengan Bu Anung tentang sayur mayur, menu makanan serasi, hingga beras sehat. Pas sekali.

“Nah dia yang awalnya hanya ingin tahu, akhirnya ikut-ikutan. 

Dia tinggal di sana selama tiga mingguan dan menalani pola makan seperti orang-orang Afrika itu.”

“Hasilnya, Pak?”

“Setelah tiga minggu, dia kembali ke Tennessee. 

Dia mulai menanam sayur mayur di lahan sempit dengan cara alami. 
Lalu beberapa bulan kemudian dia check-up medis lagi untuk periksa kankernya,”

“Sembuh, Pak?”

“Ya! Pemeriksaan menunjukkan kankernya hilang. 
Kondisi fisiknya berangsur-angsur membaik. Ini buki bahwa keyakinan yang kuat, kepasrahan kepada Tuhan, itu energi yang luar biasa. 

Apalagi ditambah dengan usaha yang logis dan sesuai dengan fitrah tubuh. 

Makanya situ nggak usah cemas, nggak usah takut..”

Takjub, tentu saja. 

Pada momen ini Pak Paulus menghujaniku dengan pengalaman-pengalamannya di dunia kedokteran, tentang kisah-kisah para pasien yang punya optimisme dan pasien yang pesimis. 

Aku jadi teringat kisah serupa yang menimpa alumni Madrasah Huffadh Al-Munawwir, pesantren tempatku belajar saat ini.

Singkatnya, santri ini mengidap tumor ganas yang bisa berpindah-pindah benjolannya. 

Ia divonis dokter hanya mampu bertahan hidup dua bulan. Terkejut atas vonis ini, ia misuh-misuh di depan dokter saat itu. 
Namun pada akhirnya ia mampu menerima kenyataan itu. 

Ia pun bertekad menyongsong maut dengan percaya diri dan ibadah. Ia sowan ke Romo Kiai, menyampaikan maksudnya itu. 

Kemudian oleh Romo Kiai, santri ini diijazahi (diberi rekomendasi amalan)
Riyadhoh Qur’an, yakni amalan membaca Al-Quran tanpa henti selama empat puluh hari penuh, kecuali untuk memenuhi hajat dan kewajiban primer.

Riyadhoh pun dimulai. 
Ia lalu hari-hari dengan membaca Al-Quran tanpa henti. 

Persis di pojokan aula Madrasah Huffadh yang sekarang. Karena merasa begitu dingin, ia jadikan karpet sebagai selimut. 

Hari ke tiga puluh, ia sering muntah-muntah, keringatnya pun sudah begitu bau. 

Bacin, mirip bangkai tikus, kenang narasumber yang menceritakan kisah ini padaku. Hari ke tiga puluh lima, tubuhnya sudah nampak lebih segar, dan ajaibnya; benjolan tumornya sudah hilang.

Selepas rampung riyadhoh empat puluh hari itu, dia kembali periksa ke rumah sakit di mana ia divonis mati. 

Pihak rumah sakit pun heran. 
Penyakit pemuda itu sudah hilang, bersih, dan menunjukkan kondisi vital yang sangat sehat!

Aku pribadi sangat percaya bahwa gelombang yang diciptakan oleh ritual ibadah bisa mewujudkan energi positif bagi fisik. 

Khususnya energi penyembuhan bagi mereka yang sakit. 

Memang tidak mudah untuk sampai ke frekuensi itu, namun harus sering dilatih. Hal ini diiyakan oleh Pak Paulus.

“Untuk melatih pikiran biar bisa tenang itu cukup dengan pernapasan. 

Situ tarik napas lewat hidung dalam-dalam selama lima detik, kemudian tahan selama tiga detik. Lalu hembuskan lewat mulut sampai tuntas. Lakukan tujuh kali setiap sebelum Shubuh dan sebelum Maghrib. 

Itu sangat efektif. Kalau orang pencak, ditahannya bisa sampai tuuh detik. 
Tapi kalau untuk kesehatan ya cukup tiga detik saja.”

Nah, anjuran yang ini sudah kupraktekkan sejak lama. Meskipun dengan tata laksana yang sedikit berbeda. 

Terutama untuk mengatasi insomnia. Memang ampuh. Yakni metode empat-tujuh-delapan. 

Ketika merasa susah tidur alias insomnia, itu pengaruh pikiran yang masih terganggu berbagai hal.

Maka pikiran perlu ditenangkan, yakni dengan pernapasan. 
Tak perlu obat, bius, atau sejenisnya, murah meriah. 

Pertama, tarik napas lewat hidung sampai detik ke empat, lalu tahan sampai detik ke tujuh, lalu hembuskan lewat mulut pada detik ke delapan. Ulangi sebanyak empat sampai lima kali. 

Memang iya mata kita tidak langsung terpejam ngantuk, tapi pikiran menadi rileks dan beberapa menit kemudian tanpa terasa kita sudah terlelap. 
Awalnya aku juga agak ragu, tapi begitu kucoba, ternyata memang ampuh. Bahkan bagi yang mengalami insomnia sebab rindu akut sekalipun.

“Gelombang yang dikeluarkan oleh otak itu punya energi sendiri, dan itu bergantung dari seberapa yakin tekad kita dan seberapa kuat konsentrasi kita,” terangnya, 

“Jadi kalau situ sholat dua menit saja dengan khusyuk, itu sinyalnya lebih bagus ketimbang situ sholat sejam tapi pikiran situ kemana-mana, hehehe.”

Duh, terang saja aku tersindir di kalimat ini.

“Termasuk dalam hal ini adalah keampuhan sholat malam. 

Sholat tahajud. Itu ketika kamu baru bangun di akhir malam, gelombang otak itu pada frekuensi Alpha. Jauh lebih kuat daripada gelombang Beta yang teradi pada waktu Isya atau Shubuh. 
Jadi ya logis saja kalau doa di saat tahajud itu begitu cepat ‘naik’ dan terkabul. Apa yang diminta, itulah yang diundang. 
Ketika tekad situ begitu kuat, ditambah lagi gelombang otak yang lagi kuat-kuatnya, maka sangat besar potensi terwujud doa-doa situ.”

Tak kusangka Pak Paulus bakal menyinggung perihal sholat segala. 
Aku pun ternganga. Ia menunjukkan sampul buku tentang ‘enzim panjang umur’.

“Tubuh kita ini, Mas, diberi kemampuan oleh Allah unuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim tertentu, populer disebut dengan enzim panjang umur. 
Secara berkala sel-sel baru terbentuk, dan yang lama dibuang. 
Ketika pikiran kita positif untuk sembuh, maka yang dibuang pun sel-sel yang terkena penyakit. 
Menurut penelitian, enzim ini bisa bekerja dengan baik bagi mereka yang sering merasakan lapar dalam tiga sampai empat hari sekali.”

Pak Paulus menatapku, seakan mengharapkan agar aku menyimpulkan sendiri.

“Puasa?”

“Ya!”

“Senin-Kamis?”

“Tepat sekali! Ketika puasa itu regenerasi sel berlangsung dengan optimal. 

Makanya orang puasa sebulan itu juga harusnya bisa jadi detoksifikasi yang ampuh terhadap berbagai penyakit.”

Lagi-lagi, aku manggut-manggut. 

Tak asing dengan teori ini.

“Pokoknya situ harus merangsang tubuh agar bisa menyembuhkan diri sendiri. 

Jangan ketergantungan dengan obat. Suplemen yang nggak perlu-perlu amat, nggak usahlah. 
Minum yang banyak, sehari dua liter, bisa lebih kalau situ banyak berkeringat, ya tergantung kebutuhan. 

Tertawalah yang lepas, bergembira, nonton film lucu tiap hari juga bisa merangsang produksi endorphin, hormon kebahagiaan. Itu akan sangat mempercepat kesembuhan.

Penyakit apapun itu! 
Situ punya radang usus kalau cemas dan khawatir terus ya susah sembuhnya. 

Termasuk asam lambung yang sering kerasa panas di dada itu.”

Terus kusimak baik-baik anjurannya sambil mengelus perut yang tak lagi terasa begah. Aneh.

“Tentu saja seperti yang saya sarankan, situ harus teratur makan, biar asam lambung bisa teratur juga. 

Bangun tidur minum air hangat dua gelas sebelum diasupi yang lain. 

Ini saya kasih vitamin saja buat situ, sehari minum satu saja. Tapi ingat, yang paling utama adalah kemantapan hati, yakin, bahwa situ nggak apa-apa. Sembuh!”

Begitulah. Perkiraanku yang tadinya bakal disanguni berbagai macam jenis obat pun keliru. 

Hanya dua puluh rangkai kaplet vitamin biasa, Obivit, suplemen makanan yang tak ada kaitannya dengan asam lambung apalagi GERD. 

Hampir satu jam kami ngobrol di ruang praktek itu, tentu saja ini pengalaman yang tak biasa. Seperti konsultasi dokter pribadi saja rasanya. 

Padahal saat keluar, kulihat masih ada dua pasien lagi yang kelihatannya sudah begitu jengah menunggu.

“Yang penting pikiran situ dikendalikan, tenang dan berbahagia saja ya,” ucap Pak Paulus sambil menyalamiku ketika hendak pamit. 

Dan jujur saja, aku pulang dalam keadaan bugar, sama sekali tak merasa mual, mules, dan saudara-saudaranya. 


Terima kasih Pak